Hasfa Ayatulloh oleh : Wahyul Elok L.Q

Begitu indah bagai embun yang menghiasi pagi, menyejukkan hati. Saat pertama kali kudengar nama Hasfa Ayatulloh, meski aku belum pernah melihat batang hidung dan telingaku mendengar suaranya sekalipun. Padahal selama ini, aku satu sekolah dengannya. Isma, teman sepondok denganku di al-avissina Kediri sering bercerita tentang hasfa saat berada di kelasnya. Aku hanya bergumam dalam hati “yang mana sih hasfa?”. Tapi sedikitpun tak menggoyahkan perasaanku. hal yang buruk isma ceritakan tentang hasfa, anak yang sering terlambat sekolah, sering tertidur saat pelajaran sejarah, biologi dan PKN hingga sering ditegur guru mata pelajarannya dan pernah juga dipanggil oleh pak yono, guru BP yang lumayan killer itu. Sebagai teman sekelasnya di kelas 1-A isma yang agak tomboy sepertinya bersimpati dengan hasfa. Namun aku tak menggubrisnya, nama Hasfa Ayatulloh telah menggenggam hatiku sedemikian eratnya.

Suatu ketika, saat bell sekolah agak panjang berdering “teeett… teeeett… teeett…” sebagai tanda waktu istrahat tiba. Seperti biasa, langkahku bergegas menuju kantin yang lokasinya tak jauh dari kelas ku 1-C. Sebab, hampir setiap berangkat sekolah aku tak sempat untuk mengunyah sesuap nasi. Makan bakso lontong di Kantin sakroni yang ku minati saat itu bersama reny teman sebangku ku. Menunggu antrian panjang. Akhirnya mendapat semangkok bakso jua, aku dan reny duduk di kursi baris tengah kantin yang berukuran 3×5 meter itu. Tiba –tiba suara keras dari mulut fuad berkata pada anak laki-laki berpostur tinngi kurus, kulit putih, mata sipit, rambut agak gondrong yang duduk di hadapanku bersama seorang temannya “Has.. hasfa… bukune tak dekek selorokan mejamu, suwun…” dan anak laki-laki itu sambari mengangkat tangan kanannya menjawab “yo…”. Sontak reflek aku belum sampai menelan sebutir bakso yang masih ku kunyah dengan lirih lisan ku menyebut nama “h-a-s-f-a…?” pada akhirnya usai menelan sesendok kuah bakso bercampur sambal, saos dan kecap hasfa berkata dengan perawakan dinginnya “opo?… kowe lila to?… cah pramuka sing wingi juara siji lomba fashion show” penuh salah tingkah, bergetarlah bibirku sedikit tersenyum “heee.. he’eh… ”. Hujan bahagia kini membasahi di seluruh benakku. Sungguh tak menyangka ternyata hasfa sudah mengenaliku. Rasa senang telah bergejolak di seluruh aliran darahku karena  kini sudah kenal dengan hasfa yang sejak awal isma bercerita seraya menyebut namanya, meski tak seberapa.

Tibalah hari sabtu, seluruh siswa berseragam putih abu-abu. Saat itu aku pulang sekolah berjalan menuju halte di sebelah utara jalan dengan tas punggung agak besar yang biasa teman-teman sebut  kura-kura karena aku yang memakainya, berbadan kurus namun tas punggung yang kubawa berukuran besar seakan seperti kura-kura. Sambari kulangkahkan kaki, Kulihat di halte itu sudah ada segerombol anak-anak MTs, SMAN, MAN, juga anak-anak mahasiswa yang sedang menunggu bus lewat untuk membawanya pulang. Namun mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang berdiri dibawah pohon dekat halte itu, dia adalah hasfa. Sesampainya di halte itu, aku malah tidak menghampirinya namun sesekali aku pandangi dia yang bersandar di sebatang pohon sembari mengunyah permen karet dan memainkan sebatang ranting kecil. Sebentar kemuadian, satu bus berhenti dihadapanku dan segerombolan anak yang alain. Begitu berdesakan mereka berebut naik kedalam bus itu. Namun aku tetap ditempat dan ku lihat hasfa pun tak terburu-buru naik bus. Dengan perawakan dinginnya, dia tetap tidak menyapaku meski kemarin sudah bertemu sekali di kantin bakso sakroni. Pada akhirnya, bus itu berlalu dengan membawa banyak penumpang. 30 menit kemudian bus mini bertuliskan kawan kita berhenti di hadapanku dan 3 orang mahasiswa. Terlihat di balik jendela penumpang hampir penuh namun aku harus tetap naik agar sampai kerumah tak terlalu petang. Ternyata hasfapun turut naik bus itu dan kami sama – sama tak mendapatkan tempat duduk sehingga terpaksa berdiri bersebelahan. Sambari berpegangan besi yang menggelantung diatap bus, hasfa menyapaku “kowe arep nang endi?”. “muleh, lak sabtu aku mesti muleh”. “omahmu endi to?”. “aku nganjuk. Lha omahmu endi?”.”omahku cedak… Bandar kono tapi aku jarang muleh”. “nyapo kok ngono?”. “karo abahku gak oleh mulah-mulih ben ndang hatam 30 jus”. “kowe mondok? Nang Al-ishlah ye?”. “nang HM lirboyo”. Sambil menganggukkan kepala aku berkata “oooo…”. Sesaat kemudian kenek bus berteriak “muning… muning… yang prapatan muning siap-siap…!!”. sembari tersenyum dia berpamitan denganku “mudun sik yo…” dan aku membalasnya dengan tersenyum. Sejak itu aku perfikir, Ternyata hasfa yang sering terlambat sekolah dan tertidur saat pelajaran berlangsung yang diceritakan isma itu, dia anak pesantren HM Putra Lirboyo dan dia sedang menghafal Al-Qur’an. sementara jarak tempuh pondok lirboyo sampai MAN 2 lumayan jauh. Apa lagi kalau tiap hari Pulang perginya naik angkot atau bus.

Hari itu adalah hari terakhir ulangan cawu ke-3 penentu naik kelas atau tidak. Sementara, raja siang sudah mulai berada di ujung kepala. Aku bersama anak-anak pramuka yang terpilih sedang latihan di bawah pohon akasia depan kelas 1-A dekat sanggar pramuka untuk persiapan lomba PPGD yang diadakan oleh saka bhakti husada kota Kediri. kebetulan aku pimpinan regu saat itu. Dari kejauhan ku lihat hasfa sedang duduk di kursi lorong pintu keluar masuk sekolah bersama temannya yang lain. Ngobrol sepertinya sambil bercanda-canda. Sampai waktu latihan usai untuk beberapa waktu pukul 13.30 wib hasfa belum beranjak juga dari lorong itu. Dan akupun melangkahkan kedua kakiku menuju tempat di mana hasfa duduk. Tak kusangka, dia sengaja menungguku sembari duduk bersama wahid teman sekelasku. Dengan santai tak ragu-ragu dia sodorkan sebuah bros ukuran kecil warna biru dengan karakter kupu-kupu “iki tak ke’i…” aku menerimanya dengan bermacam perasaan, gugup sekaligus senang “tuku nang ndi?”. “foto copyan”. “gak ditakonni karo mas lulus penjaga foto copy?”. “wonge meneng ae…”. “kowe kan cowok, kok tuku bros…”. “kan gak aku sing gawe…”. “ooo oke… swun…”. “gak muleh”. “gak, jek latihan neh arep lomba”. “aku balik disek yo lil…”. “nang pondok?”. “yo…”. “ati-ati…”. Hasfapun beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi dengan tas punggung warana hitam bertuliskan alto. Ku pandangi gerak geriknya saat berjalan. Sesampainya dipintu gerbang sekolah, dia menoleh ke arahku yang masih berdiri di lorang itu sambil tersenyum. Dan aku balas dia dengan menganggukkan kepala.

Libur ajaran baru kian berlalu, kini aku naik ke kelas 2 dan akan menempati kelas yang berbeda dari setahun yang lalu. Saat itu sembari menunggu pengumuman aku masuk di kelas apa, aku nongkrong dan bercanda didepan ruang OSIS bersama teman-teman juga sebagian kakak kelas. Namun waktu tak dapat berhenti, dari pukul 07.00-08.30wib tak kulihat hasfa sama sekali. Aku hanya berfikir mungkin dia tidak masuk sekolah atau sedang apa. Sampai tibalah saatnya pengumuman dipasang dan pak kukuh waka kesiswaanpun telah memberi pengumuman melalui microfon “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barokatu… diumumkan pada siswa-siswi bahwa pengumuman pembagian kelas sudah bisa dilihat. Untuk kelas 2 di gedung tingkat sebelah selatan sedang untuk kelas 3 di gedung sebelah barat”. Akupun berlari menyegerakan diri menuju gedung tingkat itu untuk menepis rasa penasaranku. Lokal lantai satu yang lebih dulu kutuju. Dan Alhamdulillah, nama Lila Hanania terpampang disana. aku masuk di kelas 2-A. Kelas 1-A menggugah ingatanku pada hasfa, dia tak nampak dari pagi. Rasa penasaranku tak dapat terbendung lagi. Dia masuk di kelas apa. Aku berkeliling dari lokal 2-A Sampai ke lokal 2-F. lakal-lokal itu ku datangi dan kubaca satu persatu nama-nama yang terpampang di kaca jendela masing-masing kelas. Tetap saja tak kutemui nama Nashrulloh Hasfa Ayatulloh. Mungkinkah guru lupa mencantumkan namanya atau mungkinkah dia tidak naik kelas. Namun hati kecilku berkata tidak mungkin dia tinggal kelas. Dengan perasaan cemas, aku segera menemui wahid yang biasanya nongkrong dengan hasfa. Akupun menemui wahid yang kebetulan dia sedang duduk di depan kopsis sembari mengunyah makanan ringan, nafasku terengah-engah karena langkahku lumayan cepat “hasfa nang ndi hid?”. “cae pindah sekolah”. Aku langsung bengong kemudian menghela nafas “opo gak munggah?”. “munggah, karo abahe kon pindah nang MA Tribakti cedak pondoke”. “ooo ya wes, swun hid” tak kuhiraukan apapun lagi, akupun  beranjak pergi dengan langkah perlahan, badan lemas, otak seakan diremas-remas sementara hati berselimut sesal yang menggumpal. kemudian ku hentikan langkahku dan duduk menyendiri di tangga pintu masuk gedung serbaguna sekolah. Saat itu, langit seakan tertutup awan tebal sehingga tidak ada celah bagi matahari untuk menampakkan sinarnya ke muka bumi sedikitpun. Bros pemberian hasfa yang saat itu aku pakai, ku genggam begitu eratnya. Tak sadar, air mataku akhirnya tertumpah bersama luluh-lantahnya hatiku yang sudah ku rapikan kembali dengan berfikir bahawa ini adalah yang terbaik bagi hasfa agar dia bisa meraih apa yang telah diazamkannya, hingga dia bisa menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya. Dan bagiku mengenalnya adalah pengalaman yang indah. Itu sudah lebih dari cukup. Sedangkan mengenangnya akan menjadi untaian inspirasi.

 

S E K I A N

Biografi :

Nama         : Wahyul Elok Lailatul Qudriyah

Lahir           : Nganjuk, 29 Juli 1981

Alamat        : Rt. 22  Rw. 10

Bancar – Singkalanyar – Prambon – Nganjuk

Pekerjaan   : Guru di MAN 3 Nganjuk

Riwayat Pendidikan :

  • TK Dharma Wanita Tegaron
  • SDN Tegaron 2
  • MTsN Tanjung Tani
  • MAN 2 Kediri
  • STAIN Tulungagung
  • IAIT Kediri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *